Sunday, December 11, 2011
Part 2
Penyesalan itu kayak dessert ya, datangnya selalu terakhir, bedanya cuma dibagian rasa, kalo dessert dateng pasti ada senyum di wajah, tapi kalau penyesalan yang dateng, kelihatan langssung putus asa..
namanya juga hidup. Bunga mencoba memahami hidupnya, Filip yang begitu dia sukai, kini memilih pacaran dengan temen SMA nya, hanya 3 bulan bunga bisa melihat Filip dari dekat selebihnya dia hanya berserah pada keberuntungan.
Rasa kangen selalu menyelimutinya, apalagi mereka ga sekelas lagi, bunga selalu nunggu siapa tau Filip lewat dari depannya, pernah suatu kali bunga yang udah ngerasa putus asa, pengen nangis gk bisa nangis, pengen nanya ke orang takut kalo ternyata dia ketahuan suka sama Filip,gk ada yang bisa dilakuin, hanya pasrah, berharap dan berdoa,tiba-tiba sosok FIlip yang biasa munggunakan jaket merah maroon keluar dari kantin,wajah bunga saat itu langsung berubah, dalam hati,"lelakiku akhirnya muncul, terimakasi Tuhan", walau hanya bisa memandang filip,ga bicara apapun tlah membuat bunga merasa bahagia, mencintai orang diam-diam bukan hal yang mudah, merasa bahagia melihat wajahnya tanpa harus memiliki, melihat punggunya, melihat baju yang dipakenya kemaren, hari ini, besok, dan warna apa yang sering digunakannya, apa makanan kesukaannya, kenapa badannya ga gemuk" walaupun makannya banyak,mengetaui sedikit tentang itu merasa bunga lah orang yang paling perduli padanya,tapi bunga hanya gadis bodoh yang ga berani mengungkapkan isi hatinya, gadis yang menutup rapat perasaannya, gadis yang hanya mampu tersenyum walau cintanya ga terbalas, dan ketika orang memilih jalan"nya masing-masing, kita hanya bisa melangkah, perjalanan hidup kita masih panjang, dengan atau tanpa dia, esok akan tetap menjadi hari esok, matahari akan tetap terbit dipagi hari, cahayanya akan tetap menyinari dunia, tanpa pernah memandang,siapa yang disinarinya, dia filip yang kusuka, filip yang jadi idaman hatiku, filip yang mebuatku merasa panas dingin, dan filip yang udah ga pernah kedengaran kabarnya, filip yang tidak terlalu terbuka dengan orang lain, filip yang bertahan dengan satu kenyamanan, mungkinkah aku akan bertemu dia lagi? aku tak kan meminta banyak, aku ingin jadi temannya, aku ingin dia mengasih ku seperti teman baiknya, ya jadi temannya, seperti impianku setiap akan masuk kelas, bicara di dalam hati, "aku ingin jadi temannya."
Mungkin kah ada kesempatan itu? aku merindukannya, merindukan wajah sombongnya, merindukan suaranya, dia disana dan aku disini, dan pada akhirnya kita telah memilih jalan kita masing-masing.
For my dearest Filip
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment